GEMINOSCH

banyak message yang ke save di akun facebook. lucu itu waktu main pake name generator. hasil googlingnya jadi akahito adachi sama asami yanagita. lucu ya! :-]

Tulisan : Kesempatan

Setiap orang yang lahir di dunia ini memiliki kesempatan yang berbeda, dalam banyak hal. Dan sungguh, sangat tidak bijaksana jika kita saling membandingkan dan mengukur kesempatan orang lain dengan kesempatan yang kita miliki.

Ada orang yang memiliki kesempatan sekolah di kampus besar, kampus terbaik di negeri ini. Sering bertemu dengan orang penting sekelas menteri atau seorang tokoh yang kemudian mengisi kuliah umum. Hingga pada akhirnya, bertemu dengan orang sekelas tersebut rasanya biasa-biasa saja. Sungguh, tidak bagi teman kita yang lain. Kesempatan seperti itu mungkin belum pernah dia temui. Dia tidak memiliki akses untuk itu, untuk bertemu dengan para tokoh penting di negeri ini. Sekalinya bertemu, perasaan bahagianya begitu meluap dan kita memandangnya begitu heran, terkesan ‘norak’. Sekali lagi, sungguh tidak bijaksana bila kita membandingkan kesempatan.

Ada orang yang memiliki kesempatan untuk sekolah di luar negeri. Di kampus terpilih dan gratis. Sempat berkeliling di negara-negara sekitarnya. Mungkin, kita adalah orang yang tidak memiliki kesempatan itu sebab keterbatasan kita. Entah itu akses, atau nilai akademis kita yang tidak memenuhi. Rasanya, begitu membanggakan bisa berfoto di padang salju atau di bangunan landmark negara-negara itu. Lalu, kita mulai membandingkan kesempatan yang kita miliki dengan mereka. Rasanya sedih sekali, saat itu sesungguhnya kita sedang tidak adil pada diri sendiri. Sungguh, di dunia ini kesempatan setiap orang tidaklah sama.

Apakah kesempatan itu bisa diciptakan? Atau ia datang tanpa kita tahu kapan datangnya. Aku sendiri tidak tahu. Hanya saja, semua hal mungkin terjadi sejauh manusia mau mengusahakannya.

Kesempatan yang kita miliki saat ini, lihatlah dengan lebih teliti. Apakah kita mengambilnya dan berperan baik di sana atau justru hanya melihat atau menyesali dan sibuk membandingkan dengan kesempatan orang lain. Atau jika kita sedang memiliki kesempatan besar lalu begitu rendah memandang orang lain yang tidak memiliki kesempatan sebaik kita.

Kesempatan dalam banyak hal, tidak hanya masalah sekolah. Tapi juga karir dan pekerjaan, teman yang luar biasa, jaringan yang luas, akses ke luar negeri yang mudah, apapun itu.

Semakin pandai kita menempatkan diri dalam hidup ini. Semakin pandai kita mensyukuri pemberian-Nya, maka Dia akan menambahkan nikmat yang lebih. Dan sungguh, kenikmatan yang menurut saya paling menyenangkan adalah ketenangan hati. Hilangnya resah dan kekhawatiran :)

Kita tidak perlu lagi khawatir pada kesempatan kita yang berbeda. Tidak lagi sibuk mengukur hidup sendiri dengan orang lain dan dibuat resah karenanya. Hidup kita adalah yang terbaik untuk kita. Kesempatan kita adalah kesempatan yang terbaik untuk kita.

Rumah, 19 April 2014 | (c)kurniawangunadi

“Kalau mau pasti ada jalan, kalau malas pasti banyak alasan”

– Tempelan note kecil di pinggir layar laptop seorang teman, perpus ITB. (via eddoding)

kuntawiaji:

Selamat datang di sosial media. Dunia kedua bagi seluruh pengguna smartphone di seluruh dunia (bisa juga dunia pertama bagi sebagian di antaranya). Penduduknya beragam, tersebar merata di seluruh benua, dari yang muda hingga usia tua, dengan berbagai latar belakang sosial ekonomi. Saat ini, 73% orang di seluruh dunia memiliki sosial media dan sejumlah 43% memiliki lebih dari satu situs sosial media. Sosial media menjadi suatu hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Di era saat ini, mulai terjelaskan kenapa gadget untuk mengakses sosial media disebut telepon genggam, karena gadget tersebut hampir setiap saat berada di genggaman, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, mulai dari kecil saat belajar menggenggam hingga nanti ketika sudah tidak bisa lagi menggenggam.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia adalah negara paling ramah sosial media di dunia. Terdapat 11 juta lebih pengguna facebook dan 29 juta lebih pengguna twitter di Indonesia. Hal ini adalah angka yang mencengangkan mengingat tingkat akses terhadap internet bagi penduduk Indonesia masih terbatas pada 40 juta dari 240 juta penduduknya, sebagian besar terkonsentrasi di kota besar. Penetrasi internet di Indonesia hanya 17%, namun lebih banyak orang Indonesia yang mengakses internet dibandingkan dengan membaca surat kabar ataupun mendengarkan radio. Sosial media adalah sarana untuk berpendapat di depan publik yang utama bagi banyak orang Indonesia. Setiap orang berpendapat tentang apa saja, mulai dari isu penting seperti politik dan ekonomi, hingga yang remeh-temeh seperti cinta-cintaan ala Mario Teguh. Setiap orang, melalui sosial media, bisa berlaku seolah-olah sebagai seorang ahli di bidangnya. Seseorang yang awalnya bukan siapa-siapa bisa dengan sekejap dipuja-puja bak seorang idola melalui sosial media. Seseorang yang awalnya didamba-damba bisa dicaci-maki seketika, juga karena sosial media. Pendapat orang lain yang tidak kita kenal terhadap teman kita di sosial media, jauh lebih kita percaya dibandingkan pengetahuan dan pengalaman kita terhadap teman tersebut.

Tidak ada privasi dalam sosial media. Setiap situs saling terhubung. Facebook dengan instagram. Twitter dengan tumblr. Tumblr dengan path. Path dengan twitter. Bahkan untuk sosial media yang tergolong private seperti Path sekalipun, privasi bisa terbuka lebar. Kasus Oknum D yang menulis kekesalannya terhadap ibu hamil pengguna kereta Commuter Line di Jakarta menjadi contohnya. Postingan tersebut menyebar hingga portal berita dan TV nasional. Beropini melalui tulisan di sosial media, sama artinya dengan berbicara dengan jutaan orang di luar sana, suatu hal yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Setiap orang berpendapat di sosial media. Pendapat itu bisa berupa ide, konsep, gagasan, tetapi lebih sering pendapat tentang kehidupan personal orang lain. Karena tidak ada interaksi tatap muka secara langsung di sosial media, pendapat yang dikeluarkan seringkali dinyatakan dengan lebih berani, lebih frontal, lebih vulgar, dan lebih tidak beretika. Untuk hal ini, kita bisa belajar dari kasus Oknum Z yang berpendapat tentang politik baru-baru ini.

You are what you post. Kita bisa menilai orang dari postingannya di sosial media. Melalui sosial media, saya bisa mengetahui bahwa teman saya Oknum X adalah tukang mengeluh, oknum yang lain adalah tukang pamer, oknum berikutnya adalah si makan teman, oknum yang satunya hobi membaca, oknum yang itu pintar berbicara tanpa aksi nyata, oknum yang di sana adalah pemuda masa depan bangsa, dan sebagainya. Lebih jauh dari itu, sosial media mengajarkan pada saya siapa diri saya dan ingin seperti apa saya di masa depan. Hanya saja, semua hal di sosial media seringkali menipu. Tidak semua postingan seseorang di sosial media menggambarkan kehidupan aslinya. Tidak semua pendapat seseorang di sosial media adalah benar. Di sosial media, kebahagiaan bisa jadi adalah kesedihan, keramaian adalah kesepian, kesolehan adalah kepura-puraan, madu adalah racun. Hidup di sosial media memang terasa nyaman, tetapi kehidupan paling nyata adalah ketika telepon genggam berada lepas dari genggaman. Kehidupan nyata yang sudah terlupakan yang memang selalu ada untuk kita, dengan atau tanpa sosial media.

“Cara menasehati seseorang paling baik adalah ketika seseorang itu memang siap menerima nasehat itu. Menasehati saat seseorang sedang tidak siap menerima, itu sama seperti melakukan penghakiman kepadanya.”

Juga ingat, nasihat terbaik disampaikan secara diam-diam kepada orang tersebut. Bukan di depan umum.

Ditambah, tidak perlu menjadi orang paling baik dan paling sempurna dulu untuk menjadi orang yang memberi nasehat. Bila orang harus baik dulu baru boleh memberi nasehat, niscaya tidak akan pernah ada nasehat di dunia ini.

Saling mengingatkanlah dengan cara yang baik :)

“One day you’re going to see her holding hands with someone who took your chance. She won’t even notice you because she’s too busy laughing with the stupid jokes he makes. And it will burn your heart seeing that beautiful smile on her face and realizing that you’re not the reason anymore. And then it will finally hit you: it was her, it was always her.”

– Unknown  (via scarfacebeee)